Diaspora Nusantara, Thai Chamber, dan Staf Khusus Wapres Bahas Pertukaran Pelajar Indonesia–Thailand, Fokus pada Keterampilan Teknis dan Budaya Kerja Internasional
Rian
Tim Redaksi Diaspora Nusantara
Jakarta — Diaspora Nusantara mendorong pengembangan program pertukaran pelajar dan generasi muda Indonesia–Thailand sebagai salah satu langkah untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pengalaman belajar, penguasaan keterampilan, dan paparan terhadap lingkungan kerja internasional.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan antara Diaspora Nusantara, perwakilan Thai Chamber of Commerce Indonesia, dan Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia Achmad Adhitya, Ph.D.
Pertemuan berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, pukul 11.00–12.00 WIB, di Ruang Meeting Gedung 2 Lantai 1, Kantor Sekretariat Wakil Presiden RI, Jakarta.
Pertemuan tidak hanya membicarakan peluang hubungan ekonomi Indonesia–Thailand, tetapi juga mengerucut pada potensi kolaborasi pengembangan sumber daya manusia, khususnya melalui rencana pertukaran pelajar dan pembelajaran keterampilan yang dapat mempertemukan generasi muda Indonesia dengan ekosistem pendidikan, dunia usaha, dan industri di Thailand.
Dalam pembahasan tersebut, Staf Khusus Wakil Presiden RI Achmad Adhitya, Ph.D. menyambut positif gagasan kolaborasi tersebut dan menyampaikan bahwa rencana kerja sama pengembangan SDM Indonesia–Thailand merupakan gagasan yang baik untuk dikembangkan lebih lanjut.
Pembahasan kemudian diarahkan pada bagaimana pengalaman internasional dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas generasi muda Indonesia.
Belajar Hard Skills dan Budaya Kerja Internasional
Rencana program diarahkan agar peserta tidak hanya memperoleh pengalaman akademik atau sekadar melakukan kunjungan internasional.
Generasi muda Indonesia diharapkan memperoleh kesempatan untuk mempelajari hard skills, melihat penerapan keterampilan dalam lingkungan nyata, serta memahami budaya kerja internasional melalui pengalaman langsung di Thailand.
Pada saat yang sama, skema pertukaran juga membuka ruang bagi pelajar Thailand untuk mengenal Indonesia sehingga pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan budaya dapat berlangsung secara dua arah.
Founder & Chairman Diaspora Nusantara Arjun Roy menilai pengalaman internasional semakin relevan dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin terhubung secara global.
«“Kami ingin pertukaran ini bukan sekadar membawa anak muda pergi ke luar negeri. Mereka harus pulang membawa keterampilan, pengalaman, disiplin, jaringan, dan pemahaman mengenai bagaimana budaya kerja internasional berjalan. Pengalaman itulah yang kemudian dapat mereka bawa kembali untuk memberikan nilai tambah bagi Indonesia,” ujar Arjun Roy.»
Dari Human Capital Menuju Talent Mobility
Gagasan tersebut sejalan dengan kerangka Indonesia–Thailand Strategic Collaboration yang dipaparkan Diaspora Nusantara dalam pertemuan.
Dalam materi tersebut, Human Capital & Talent Mobility ditempatkan sebagai salah satu dari tiga pilar peluang kolaborasi Indonesia–Thailand, bersama Investment & Industrial Collaboration serta Energy & Sustainability.
Pilar pengembangan SDM secara khusus mencakup skills & vocational collaboration, professional exchange, serta pengembangan talent pipeline for industry.
Dengan pendekatan tersebut, kerja sama pengembangan SDM tidak berhenti pada pendidikan formal. Pendidikan dan pelatihan diharapkan semakin terhubung dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan industri.
Thai Chamber Buka Ruang Kolaborasi
Dalam pertemuan tersebut, Diaspora Nusantara membawa delegasi Thai Chamber of Commerce Indonesia yang terdiri dari Mrs. Pathama Sirikul, President Thai Chamber of Commerce Indonesia dan Honorary Trade Advisor of Thailand in Indonesia; Ms. Lidya de Vega, Senior Executive Assistant Thai Chamber of Commerce Indonesia; serta Mr. Walid Dalimunthe, Country Representative Kumwell Corporation yang terhubung dengan Thai Chamber of Commerce Indonesia.
Keterlibatan jaringan dunia usaha menjadi relevan karena salah satu arah yang dibahas adalah bagaimana pengalaman internasional dapat memberikan pemahaman yang lebih dekat terhadap kebutuhan industri dan budaya kerja.
Dengan demikian, pertukaran Indonesia–Thailand yang direncanakan tidak semata-mata diposisikan sebagai pertukaran budaya, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan kapasitas generasi muda.
Membangun SDM yang Kembali Menggerakkan Indonesia
Bagi Diaspora Nusantara, mobilitas internasional tidak harus dimaknai sebagai perpindahan talenta Indonesia ke luar negeri secara permanen.
Pengalaman global justru dapat menjadi instrumen pengembangan kapasitas.
Anak muda dapat belajar di luar negeri, memperoleh keterampilan dan pengalaman, membangun jejaring internasional, kemudian membawa pengetahuan tersebut untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.
«“Tujuan akhirnya bukan sekadar berapa banyak anak muda Indonesia yang bisa pergi ke Thailand. Yang lebih penting adalah apa yang mereka pelajari di sana dan bagaimana pengetahuan itu kembali menjadi kekuatan bagi Indonesia,” kata Arjun Roy.»
Konsep tersebut menempatkan pertukaran pelajar sebagai bagian dari proses membangun generasi yang memiliki kompetensi teknis sekaligus kemampuan beradaptasi dengan lingkungan internasional.
SDM sebagai Fondasi Pertumbuhan Ekonomi
Pengembangan kualitas generasi muda memiliki hubungan erat dengan pembangunan ekonomi.
Tenaga kerja yang memiliki keterampilan, produktivitas, pengalaman internasional, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan industri merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing Indonesia.
Karena itu, Diaspora Nusantara mendorong agar hubungan Indonesia–Thailand tidak hanya berbicara mengenai investasi, perdagangan, atau hubungan antarkorporasi.
Investasi kepada manusia perlu berjalan bersama investasi ekonomi.
Pertemuan di Sekretariat Wakil Presiden tersebut menjadi ruang untuk membawa perspektif tersebut ke dalam pembahasan yang lebih konkret: bagaimana jejaring internasional dapat membuka akses pembelajaran dan pengembangan kapasitas bagi generasi muda Indonesia.
Dari Pertemuan Menuju Program Konkret
Tahap berikutnya adalah menerjemahkan gagasan pertukaran tersebut menjadi skema yang dapat dijalankan.
Dalam kerangka yang dipresentasikan Diaspora Nusantara, proses tindak lanjut dirancang bergerak dari strategic direction, menuju focused dialogue, kemudian project pipeline, hingga tindak lanjut bersama kementerian, lembaga, dunia usaha, dan focal point terkait.
Diaspora Nusantara juga membawa pendekatan Map – Match – Move untuk periode awal 90 hari: memetakan peluang dan mitra, mempertemukan pihak terkait dalam pembahasan teknis, kemudian membawa peluang yang dinilai layak menuju tindak lanjut konkret.
Dalam konteks pertukaran Indonesia–Thailand, tahapan berikutnya dapat mencakup pemetaan bidang keterampilan prioritas, institusi pendidikan dan industri yang dapat terlibat, profil peserta, bentuk pembelajaran, durasi program, serta mekanisme pelaksanaan di kedua negara.
Diaspora sebagai Jembatan Pengembangan Talenta
Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan peran yang ingin dikembangkan Diaspora Nusantara: tidak hanya menghubungkan masyarakat Indonesia di luar negeri, tetapi juga membawa jejaring internasional menjadi peluang pengembangan bagi masyarakat di dalam negeri.
Dalam konteks Indonesia–Thailand, jejaring dunia usaha dan internasional dapat menjadi pintu bagi generasi muda untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, pengalaman, serta pemahaman mengenai budaya kerja yang berbeda.
Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada individu peserta. Pengetahuan, kompetensi, dan jejaring yang diperoleh di luar negeri diharapkan dapat kembali memberikan nilai tambah bagi lingkungan, industri, dan perekonomian Indonesia.
«“Kami ingin membangun jembatan agar anak muda Indonesia dapat belajar dari dunia, lalu membawa pengalaman dunia itu kembali untuk membangun Indonesia. Ketika SDM kita semakin kuat, merekalah yang nantinya akan menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional,” tutup Arjun Roy.»