Membangun Ekosistem Diaspora yang Kuat: Catatan dari Forum Bisnis GEKRAFS Jerman dan Bazaar Diaspora Nusantara di Berlin
Rian
Tim Redaksi DiasporaNusantara
Berlin, Jerman — Komunitas Indonesia di Jerman kembali memperlihatkan bahwa diaspora bukan sekadar kumpulan individu yang hidup jauh dari Tanah Air. Diaspora dapat tumbuh menjadi sebuah ekosistem yang mempertemukan jejaring bisnis, komunitas, pendidikan, seni, budaya, dan berbagai peluang lintas negara.
Semangat tersebut terlihat dalam Forum Bisnis GEKRAFS Jerman dan Bazaar Diaspora Nusantara yang berlangsung di Berlin pada Sabtu, 19 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi diaspora, pelaku usaha, komunitas kreatif, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membicarakan peluang ekonomi kreatif Indonesia di Jerman dan Eropa.
Membuka Peluang Ekonomi Kreatif Indonesia di Jerman
Dalam forum bisnis, Osco Olfriady Letunggamu, Ketua Koordinator Luar Negeri DPP Gekrafs dan Febi Adrian, Atase Perdagangan KBRI Berlin berbagi perspektif mengenai perkembangan ekonomi kreatif Indonesia serta peluang yang tersedia di pasar internasional. Salah satu pembahasan penting adalah bagaimana produk Indonesia dapat memasuki pasar Jerman dengan lebih kompetitif.
Pasar internasional tidak cukup didekati hanya dengan membawa produk. Cerita di balik produk, keunikan, kualitas yang konsisten, keberlanjutan, serta komunikasi bisnis yang profesional menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen dan mitra.
Diskusi kemudian berkembang melalui sesi tanya jawab yang mempertemukan pengalaman diaspora dengan berbagai persoalan konkret yang dihadapi pelaku usaha ketika mencoba memasuki pasar Eropa.
Diaspora sebagai Jembatan Pasar Global
Forum tersebut membawa satu gagasan penting: diaspora memiliki posisi yang unik karena memahami dua dunia sekaligus. Mereka mengenal Indonesia dan pada saat yang sama hidup, bekerja, belajar, serta membangun jejaring di negara tempat mereka bermukim.
Posisi tersebut dapat menjadi modal untuk membantu mempertemukan produk dan talenta Indonesia dengan pasar internasional—mulai dari memberikan pemahaman mengenai karakter konsumen lokal, membangun jejaring, hingga memperkenalkan produk Indonesia kepada calon mitra.
GEKRAFS sendiri merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Pada tingkat nasional, organisasi tersebut saat ini dipimpin Kawendra Lukistian.
Pada 2026, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dan GEKRAFS juga tercatat mendorong sejumlah agenda penguatan ekosistem ekonomi kreatif, termasuk pemberdayaan pelaku usaha dan pengembangan pembiayaan berbasis kekayaan intelektual.
Dari Forum Bisnis Menuju Kolaborasi Diaspora
Kehadiran berbagai komunitas dalam kegiatan di Berlin memperlihatkan bahwa penguatan diaspora membutuhkan kolaborasi lintas sektor. TIDAR Jerman turut hadir dalam jejaring kegiatan, khususnya dalam konteks pengembangan hubungan komunitas dan generasi muda Indonesia di Jerman.
Masing-masing organisasi dan komunitas memiliki bidang serta karakter yang berbeda. Namun, ruang pertemuan seperti ini memungkinkan berbagai jejaring tersebut bertemu dalam kepentingan yang sama: memperluas koneksi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Bazaar Diaspora: Kuliner, Kreativitas, dan Identitas Indonesia
Jika forum bisnis menghadirkan diskusi mengenai pasar dan ekonomi kreatif, Bazaar Diaspora Nusantara menghadirkan Indonesia melalui pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian. Makanan, produk Indonesia, batik, hingga interaksi langsung antarmasyarakat menjadi bagian dari suasana bazaar.
Indomarkt GmbH turut menghadirkan berbagai produk Indonesia, mulai dari makanan ringan dan sambal Nusantara hingga batik dan kain tradisional. Kehadiran bisnis diaspora seperti ini menunjukkan bagaimana kegiatan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan pengenalan identitas Indonesia di luar negeri. Selain aktivitas perdagangan, Indomarkt juga memperkenalkan sejumlah bidang layanan yang dikembangkannya, antara lain asuransi, Personalvermittlung atau penyaluran tenaga kerja, serta kegiatan ekspor-impor.
Menghubungkan Pendidikan dan Dunia Kerja
Unsur pendidikan dan pengembangan talenta juga hadir melalui AVIJ (Asosiasi Vokasi Indonesia di Jerman). Selain meramaikan bazaar dengan makanan ringan dan minuman Indonesia, AVIJ memperkenalkan aktivitas di bidang vokasi serta jejaring yang berkaitan dengan pelajar dan Azubi Indonesia di Jerman.
Pertemuan antara komunitas pendidikan dan pelaku usaha menjadi salah satu gambaran bagaimana ekosistem diaspora dapat dibangun. Satu pihak memiliki jejaring talenta dan pendidikan, sementara pihak lain memiliki pengalaman bisnis dan akses pasar. Ketika keduanya dipertemukan, peluang kolaborasi dapat berkembang lebih luas.
Seni sebagai Bahasa yang Menyatukan Diaspora
Nuansa Indonesia juga hadir melalui berbagai pertunjukan seni dan budaya. Rangkaian kegiatan menampilkan kesenian Indonesia, mulai dari tari, Angklung Orchestra Berlin hingga Pencak Silat SiGePi Berlin. Penampilan Sandhy Sondoro bersama Indro Hardjodikoro turut menjadi salah satu bagian dari rangkaian kegiatan. Musik dan seni memberikan dimensi berbeda dari pembicaraan bisnis. Di tengah masyarakat internasional, budaya dapat menjadi bahasa yang mudah diterima sekaligus menjadi pintu untuk mengenal Indonesia lebih jauh.
Ekosistem Diaspora Tidak Dibangun Sendirian
Forum bisnis dan bazaar di Berlin memperlihatkan bahwa kekuatan diaspora tidak hanya ditentukan oleh jumlah masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Kekuatan tersebut tumbuh ketika pelaku usaha, profesional, mahasiswa, pekerja, komunitas, seniman, serta berbagai organisasi dapat saling terhubung.
Kolaborasi memungkinkan pengalaman dan sumber daya yang tersebar tersebut berubah menjadi sebuah ekosistem.
Bagi Indonesia, jaringan semacam ini memiliki potensi untuk membantu memperkenalkan produk kreatif, memperluas koneksi bisnis, membangun pertukaran pengetahuan, serta menjaga kehadiran budaya Indonesia di berbagai belahan dunia.
Membawa Indonesia ke Mana Pun Kita Berada
Pada akhirnya, Forum Bisnis GEKRAFS Jerman dan Bazaar Diaspora Nusantara bukan hanya tentang sebuah kegiatan di Berlin. Keduanya menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia di luar negeri dapat tetap memiliki hubungan produktif dengan Tanah Air melalui jalur yang beragam.
Ada yang memperkenalkan produk Indonesia. Ada yang membangun bisnis. Ada yang membantu pendidikan dan vokasi. Ada pula yang memperkenalkan Indonesia melalui musik, kuliner, seni, dan budaya.
Semua memiliki ruang untuk berkontribusi.
Diaspora bukan hanya tentang hidup di luar negeri, tetapi tentang bagaimana kita tetap membawa Indonesia ke mana pun kita berada.